Apa
itu Hadis Qudsi?
Secara bahasa, kata qudsi
berasal dari kata al-quds (القدس) yang berarti suci. Maka, hadis qudsi disebut
juga sebagai “hadis yang suci” karena kandungan maknanya berasal dari Allah
ﷻ.
Secara istilah, hadis
qudsi adalah hadis yang maknanya bersumber dari Allah ﷻ,
tetapi lafaz atau redaksinya disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Jadi, yang
membedakannya dari Al-Qur’an:
Al-Qur’an→ lafaz dan
makna sama-sama dari Allah, membacanya bernilai ibadah, dan merupakan mukjizat.
Hadis Qudsi → makna
dari Allah, lafaz dari Nabi ﷺ, tidak bernilai ibadah
dalam tilawah, dan bukan mukjizat.
Pendapat Para Ulama
tentang Hadis Qudsi
1.Imam Al-Suyuthi; Menjelaskan
bahwa hadis qudsi adalah firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ
melalui ilham atau mimpi, bukan melalui malaikat Jibril dengan cara yang sama
seperti Al-Qur’an.
2.Imam An-Nawawi; Menyebutkan
bahwa hadis qudsi kedudukannya adalah di antara Al-Qur’an dan hadis Nabawi. Ia
tidak setinggi Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kemuliaan karena maknanya
langsung dari Allah.
3.Ibn Hajar
Al-‘Asqalani; Menegaskan bahwa lafaz hadis qudsi berasal dari Nabi Muhammad ﷺ,
sementara maknanya dari Allah. Karena itu, hadis qudsi bisa saja memiliki
derajat sahih, hasan, atau dhaif, bergantung pada sanadnya.
4.Al-Qadhi ‘Iyadh; Menyatakan
bahwa hadis qudsi tidak boleh dibacakan dalam salat seperti Al-Qur’an, sebab ia
bukan bagian dari mushaf dan tidak memiliki status sebagai ayat.
Kesimpulan
Hadis qudsi adalah
pesan ilahi yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ
dalam bentuk makna, lalu Nabi menyampaikannya dengan redaksinya sendiri.
Ia berbeda dari
Al-Qur’an, tetapi lebih tinggi kedudukannya dibanding hadis Nabawi biasa karena
maknanya langsung dari Allah.
Ulama sepakat bahwa
hadis qudsi adalah salah satu bentuk wahyu selain Al-Qur’an, namun tidak
termasuk bagian dari mushaf.
Mempelajari hadis qudsi
berarti kita semakin dekat dengan nilai-nilai ketuhanan yang disampaikan dalam
bentuk yang lembut dan penuh hikmah. Ia adalah “bisikan kasih sayang” dari
Allah kepada hamba-Nya, agar kita tetap berada di jalan yang lurus.
1. Tentang Niat
Rasulullah ﷺ
bersabda, Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya Allah
menuliskan (menetapkan) kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskannya.
Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun tidak jadi mengerjakannya, Allah
catat baginya satu kebaikan sempurna. Jika ia berniat dan melaksanakannya,
Allah catat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan
lebih. Jika ia berniat melakukan keburukan namun tidak jadi mengerjakannya,
Allah catat baginya satu kebaikan. Jika ia berniat lalu mengerjakannya, Allah
catat baginya satu keburukan.”
(HR. Bukhari &
Muslim)
Makna: Allah ﷻ
Maha Adil dan Maha Pemurah. Bahkan niat baik yang belum terlaksana sudah diberi
pahala, sementara niat buruk yang tidak jadi dilakukan justru dicatat sebagai
kebaikan.
2. Larangan Berbuat
Zalim
Allah ﷻ
berfirman dalam hadis qudsi: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah
mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu haram di
antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)
Makna: Allah Maha Adil
dan tidak menzalimi hamba-Nya. Manusia juga wajib menjauhi kezhaliman dalam
bentuk apapun, baik kepada Allah (syirik), kepada sesama manusia, maupun kepada
diri sendiri.
3. Rahmat Allah yang
Luas
Allah ﷻ berfirman: *“Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” ( HR. Bukhari & Muslim)
Makna: Kasih sayang
Allah lebih luas dan lebih mendahului daripada murka-Nya. Ini memberi harapan
besar bagi hamba yang bertaubat, bahwa pintu ampunan Allah selalu terbuka.
4. Allah Sesuai dengan
Prasangka Hamba-Nya
Allah ﷻ
berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika
ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam
diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di hadapan banyak orang, Aku mengingatnya di
hadapan yang lebih baik dari mereka (para malaikat).”
(HR. Bukhari &
Muslim)
Makna: Jika kita
berbaik sangka kepada Allah dan yakin akan pertolongan-Nya, maka Allah akan
memperlakukan kita sesuai prasangka itu. Sebaliknya, buruk sangka kepada Allah
adalah kesalahan besar.
5. Allah Maha
Mengampuni
Allah ﷻ berfirman:“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan siang dan malam, sedangkan Aku mengampuni semua dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim)
Makna: Manusia tak
luput dari dosa, tetapi Allah selalu membuka pintu ampunan bagi yang mau
kembali dengan taubat.
Hadis-hadis qudsi di
atas menunjukkan betapa Allah penuh
kasih sayang, Maha Pengampun, dan Maha Adil. Ia mengajarkan kita untuk
memperbaiki niat, menjauhi kezhaliman, selalu berprasangka baik kepada Allah,
serta tidak pernah putus asa dari ampunan-Nya.